1. Dasar Perintah Salat Tahajud
Ada sebuah riwayat shahih yang mennceritakan bahwa Rasulullah Saw tidak pernah meninggalkan shalat tahajud semasa hidupnya, dan beliau juga bersabda:”Salat sunah yang utama setelah salat fardhu adalah salat tahajud,”(HR Abu Dawud).
Di dalam Al-Qur’an, Allah Swt berfirman dalam dua surat:
QS. Al-Muzzamil 1-3: “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (darinya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit.”
QS. Al-Israa 79: “Dan, pada sebagian malam hari, bersembahyang dan tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.”
2. Salat Tahajud dan Kesehatan
Menanggapi perintah Allah, dan menterjemahkannya dalam bahasa yang dipahami oleh kaumnya, Rasulullah bersabda dalam sebuah hadits:”Salat tahajud dapat menghapus dosa, mendatangkan ketenangan, dan menghindarkan dari penyakit,”(HR Tarmidzi).
Sabda inilah yang menjadi salah satu pemicu DR. Moh. Sholeh menghubungkannya dengan penyembuhan atas penyakit. Dari sebuah penelitian diasumsikan bahwa ketenangan yang disebutka dalam hadits Rasulullah tersebut memang berkaitan dengan peningkatan ketahanan tubuh imonologik, mengurangi resiko penyakit jantung, dan meningkatkan usia harapan. Sebaliknya, stress dapat menyebabkan kerentanan terhadap infeksi, mempercepat pertumbuhan sel kanker, dan meningkatkan metastasis (penyebaran sel-sel kanker).
Namun demikian, ada temuan yang menyebutkan bahwa pelaksanaan salat tahajud di malam hari, yang menuntut orang untuk bangun malam hari di tengah waktu tidurnya, merugikan kesehatan. Hal ini juga disadari oleh penulis buku, dan menurutnya hal ini disebabkan oleh kegagalan adaptasi terhadap irama biologis baru.
Seperti diketahui, kita yang terbiasa bangun dan beraktivitas di hari terang (pagi – sore hari) memiliki irama kehidupan yang khas siang hari. Bila kemudian ditambah lagi dengan beban melakukan aktivitas salat tahajud, berarti irama kehidupan yang mapan tadi harus berubah dan menuntut adanya perubahan dalam perilaku dan kerja sistem syaraf pusat. Di malam hari, seharusnya sekresi hormon kortisol menurun, termasuk sebagian dari mereka yang melaksanakan salat tahajud. Sebaliknya, ada sementara orang yang menunjukka peningkatan hormon kortisol saat dibebani harus melakukan salat tahajud. Orang yang berhasil melakukan adaptasi dengan perubahan jam tidur adalah orang yang punya niat dan ikhlas. Hal ini berkebalikan dengan mereka yang melakukan salat tahajud dengan keterpaksaan. Catatan: Hormon kortisol berfungsi untuk mempertahankan integritas tubuh, sifat responsif pembuluh darah dan volume cairan tubuh. Peningkatan hormon kortisol bisa memicu terjadinya hipertensi melalui mekanisme fisiologis tertentu.
Dalam pikiran penulis buku ini, kondisi ini harus didekati dengan cabang sains yang melibatkan ilmu psikologi, neurologi, dan imunologi. Kini, psikoneuroimunologi telah berkembang menjadi suatu sains dengan paradigma yang jelas, dengan mengaitkan konsep tentang perilaku, neuroendokrin, dan imunologik. Dengan demikian, pembahasan tentang manusia bisa diharapkan lebih holistik.
Tantangan terbesar sinergi antara ilmu agama dengan sains adalah perbedaan logika berpikirnya. Penulis agaknya mendukung dijembataninya logika dikotomi sains empiris dengan spiritualitas / religiusitas. Dikotomi sains dan spiritualiltas / religiusitas menempatkan kajian agama secara normatif dan tidak menyentuh sains, sebaliknya penalaran sains harus bersifats sekuler dan lepas dari landasan wahyu Ilahiah. DR. Moh. Shaleh berasumsi bahwa, kajian tentang kecerdasan emosional atau kecerdasan spiritual untuk menunjukkan mekanisme kerja otak mengindikasikan bahwa kesadaran religius sudah mencampuri penalaran sains. Dengan hilangnya pembatas antara nalar religius dengan arguemntasi ilmiah, ia berharap adanya jawaban atas dua pertanyaan pokok yang melandasi pemelitian ini, yaitu:
1. Apakah salat tahajud menurunkan sekresi hormon kortisol?
2. Apakah salat tahajud meningkatkan perubahan respons ketahanan tubuh imunologik?
Penelitian DR. Moh. Sholeh berusaha membuktikan bahwa salat tahajud memang bisa menurunkan sekresi hormon kortisol, atau dengan kata lain meningkatkan ketahanan tubuh imunologik. Salat tahajud yang dimaksudkan di sini adalah salat yang dilakukan secara ikhlas, yang merupakan wilayah pemikiran religius. Pada akhirnya, sang penulis mengharapkan bukunya mampu menandai dimulainya kebangkitan pembuktian sains terhadap berbagai konsep religius.
Ada sebuah riwayat shahih yang mennceritakan bahwa Rasulullah Saw tidak pernah meninggalkan shalat tahajud semasa hidupnya, dan beliau juga bersabda:”Salat sunah yang utama setelah salat fardhu adalah salat tahajud,”(HR Abu Dawud).
Di dalam Al-Qur’an, Allah Swt berfirman dalam dua surat:
QS. Al-Muzzamil 1-3: “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (darinya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit.”
QS. Al-Israa 79: “Dan, pada sebagian malam hari, bersembahyang dan tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.”
2. Salat Tahajud dan Kesehatan
Menanggapi perintah Allah, dan menterjemahkannya dalam bahasa yang dipahami oleh kaumnya, Rasulullah bersabda dalam sebuah hadits:”Salat tahajud dapat menghapus dosa, mendatangkan ketenangan, dan menghindarkan dari penyakit,”(HR Tarmidzi).
Sabda inilah yang menjadi salah satu pemicu DR. Moh. Sholeh menghubungkannya dengan penyembuhan atas penyakit. Dari sebuah penelitian diasumsikan bahwa ketenangan yang disebutka dalam hadits Rasulullah tersebut memang berkaitan dengan peningkatan ketahanan tubuh imonologik, mengurangi resiko penyakit jantung, dan meningkatkan usia harapan. Sebaliknya, stress dapat menyebabkan kerentanan terhadap infeksi, mempercepat pertumbuhan sel kanker, dan meningkatkan metastasis (penyebaran sel-sel kanker).
Namun demikian, ada temuan yang menyebutkan bahwa pelaksanaan salat tahajud di malam hari, yang menuntut orang untuk bangun malam hari di tengah waktu tidurnya, merugikan kesehatan. Hal ini juga disadari oleh penulis buku, dan menurutnya hal ini disebabkan oleh kegagalan adaptasi terhadap irama biologis baru.
Seperti diketahui, kita yang terbiasa bangun dan beraktivitas di hari terang (pagi – sore hari) memiliki irama kehidupan yang khas siang hari. Bila kemudian ditambah lagi dengan beban melakukan aktivitas salat tahajud, berarti irama kehidupan yang mapan tadi harus berubah dan menuntut adanya perubahan dalam perilaku dan kerja sistem syaraf pusat. Di malam hari, seharusnya sekresi hormon kortisol menurun, termasuk sebagian dari mereka yang melaksanakan salat tahajud. Sebaliknya, ada sementara orang yang menunjukka peningkatan hormon kortisol saat dibebani harus melakukan salat tahajud. Orang yang berhasil melakukan adaptasi dengan perubahan jam tidur adalah orang yang punya niat dan ikhlas. Hal ini berkebalikan dengan mereka yang melakukan salat tahajud dengan keterpaksaan. Catatan: Hormon kortisol berfungsi untuk mempertahankan integritas tubuh, sifat responsif pembuluh darah dan volume cairan tubuh. Peningkatan hormon kortisol bisa memicu terjadinya hipertensi melalui mekanisme fisiologis tertentu.
Dalam pikiran penulis buku ini, kondisi ini harus didekati dengan cabang sains yang melibatkan ilmu psikologi, neurologi, dan imunologi. Kini, psikoneuroimunologi telah berkembang menjadi suatu sains dengan paradigma yang jelas, dengan mengaitkan konsep tentang perilaku, neuroendokrin, dan imunologik. Dengan demikian, pembahasan tentang manusia bisa diharapkan lebih holistik.
Tantangan terbesar sinergi antara ilmu agama dengan sains adalah perbedaan logika berpikirnya. Penulis agaknya mendukung dijembataninya logika dikotomi sains empiris dengan spiritualitas / religiusitas. Dikotomi sains dan spiritualiltas / religiusitas menempatkan kajian agama secara normatif dan tidak menyentuh sains, sebaliknya penalaran sains harus bersifats sekuler dan lepas dari landasan wahyu Ilahiah. DR. Moh. Shaleh berasumsi bahwa, kajian tentang kecerdasan emosional atau kecerdasan spiritual untuk menunjukkan mekanisme kerja otak mengindikasikan bahwa kesadaran religius sudah mencampuri penalaran sains. Dengan hilangnya pembatas antara nalar religius dengan arguemntasi ilmiah, ia berharap adanya jawaban atas dua pertanyaan pokok yang melandasi pemelitian ini, yaitu:
1. Apakah salat tahajud menurunkan sekresi hormon kortisol?
2. Apakah salat tahajud meningkatkan perubahan respons ketahanan tubuh imunologik?
Penelitian DR. Moh. Sholeh berusaha membuktikan bahwa salat tahajud memang bisa menurunkan sekresi hormon kortisol, atau dengan kata lain meningkatkan ketahanan tubuh imunologik. Salat tahajud yang dimaksudkan di sini adalah salat yang dilakukan secara ikhlas, yang merupakan wilayah pemikiran religius. Pada akhirnya, sang penulis mengharapkan bukunya mampu menandai dimulainya kebangkitan pembuktian sains terhadap berbagai konsep religius.
