Rabu, 11 Februari 2009

    Lumba-Lumba, Dapat Berkomunikasi Dengan Sesamanya Dalam Jarak 220 KM

    Lebih dari 70% permukaan bumi diliputi oleh air. Di kedalaman samudera, beragam makhluk berjumlah sangat besar hidup selaras satu sama lain. Salah satunya adalah sahabat kita, lumba-lumba. Lumba-lumba adalah makhluk laut paling cerdas, ramah dan suka menolong.

    Melihat Dengan Suara
    Lumba-lumba lebih sering kita lihat di permukaan air. Tapi sebenarnya mereka menghabiskan sebagian besar waktunya di kedalaman lautan; tempat yang menyulitkan untuk melihat sesama mereka dan mencari makan. Tapi, lumba-lumba dapat melihat lebih baik dalam gelapnya lautan daripada kemampuan manusia melihat dalam terangnya cahaya. Lalu, bagaimanakah mereka dapat melakukan ini? Lumba-lumba diciptakan dengan sistemnya yang lengkap dan sempurna, yang memungkinkan mereka menemukan arah dengan merasakan getaran suara.
    Lumba-lumba bernapas melalui lubang yang ada di atas kepalanya. Tepat di bawah lubang ini, terdapat kantung-kantung kecil berisi udara. Dengan mengalirkan udara melalui kantung-kantung ini, mereka menghasilkan suara bernada tinggi. Kantung udara ini berperan sebagai cermin akustik yang memfokuskan suara yang dihasilkan gumpalan kecil jaringan lemak yang berada tepat di bawah lubang pernapasan. Kemudian, suara ekolokasi ini dipancarkan ke arah sekitarnya secara terputus-putus. Suara lumba-lumba segera memantul kembali bila membentur benda apa pun. Lumba-lumba mendengarkan seksama pantulan suara ini. Gelombang suara ini ditangkap di bagian rahang bawahnya yang disebut "jendela akustik".
    Dari sini, informasi suara diteruskan ke telinga bagian tengah, dan akhirnya ke otak untuk diterjemahkan. Pantulan suara dari sekelilingnya memberi informasi rinci tentang jarak benda-benda dari mereka, berikut ukuran dan pergerakannya.
    Sistem sonar frekuensi tinggi ini tidak hanya berfungsi mengindra benda-benda di lautan. Lumba-lumba juga menggunakannya untuk mencari makan. Lumba-lumba dalam suatu kelompok mengarahkan gelombang suara kuat ini pada sekelompok ikan. Dengan cara ini, mereka membuyarkan kawanan ikan dan dengan mudah menangkapnya. Lumba-lumba juga menggunakan sistem sonar untuk berkomunikasi secara mengagumkan. Mereka mampu saling berkirim pesan meski terpisahkan oleh jarak lebih dari 220 km. Artinya, seekor lumba-lumba di selat Bosphorus dapat berkomunikasi dengan rekannya di selat Dardanela. Lumba-lumba paling sering berkomunikasi secara menakjubkan untuk menemukan pasangan dan saling mengingatkan akan bahaya.
    Tidur dengan sebelah mata dan sebelah otak
    Lumba-lumba memiliki lensa mata kenyal yang dapat mengembang dan mengerut sehingga mampu berfokus di bawah dan di atas permukaan air. Ini sangat diperlukan bagi lumba-lumba. Setiap kali muncul ke permukaan, lumba-lumba secara seksama memperhatikan pergerakan kawanan burung di sekitar mereka. Sebab, di tempat burung berkumpullah terdapat sekumpulan ikan. Lumba-lumba sangat tahu akan hal ini, dan memanfaatkannya untuk mencari mangsa dengan mudah. Desain istimewa mata lumba-lumba juga melindungi mata mereka dari air laut yang asin.
    Mata lumba-lumba memiliki ciri khusus lainnya: setiap mata dapat berfokus pada satu titik yang berbeda pada saat bersamaan. Karenanya, seekor lumba-lumba dapat melihat ke depan dengan satu mata untuk menentukan arah berenangnya sambil berjaga-jaga dari bahaya dengan mata yang lain. Bila perlu, lumba-lumba dapat menutup salah satu matanya dan mengisitirahatkan separuh otaknya. Selang beberapa lama, ia ganti melakukan hal yang sama pada mata dan separuh otaknya yang lain.
    Kulit Bergerak Menggelombang
    Lumba-lumba senang berenang dengan kecepatan tinggi. Tentunya, kapal laut dengan kecepatan seperti ini akan mengalami gaya hambat sangat kuat. Namun ini bukan masalah bagi lumba-lumba tubuh dan kulitnya dirancang khusus untuk mengurangi hambatan air sebanyak mungkin. Saat lumba-lumba mulai berenang cepat, lapisan tipis air terbentuk di permukan kulit mereka. Lapisan tipis air ini dinamakan "lapisan penghalang". Kulit ini diciptakan dengan kelenturan yang memungkinkannya bergerak menggelombang ketika turbulensi terjadi. Kulit ini mencegah terjadinya gaya hambat air dengan bergerak menggelombang berlawanan arah dengan gerak turbulensi pada "lapisan penghalang". Hasilnya, gerakan renang yang cepat tanpa menimbulkan suara. Desain ini sungguh merupakan keajaiban teknik.

    Puncak Aktivitas Matahari 2011-2012 terkait Isu Kiamat 2012?

    Peneliti Utama Astronomi Astrofisika, LAPANIni catatan terlambat, tetapi belum basi. Rasanya klarifikasi ini perlu dilakukan karena LAPAN disebut-sebut juga terkait dengan isu kiamat 2012 yang sempat beredar di internet. Keterkaitannya adalah bersumber dari berita yang seolah-olah prakiraan puncak aktivitas matahari 2011 - 2012 dikaitkan dengan isu tersebut.

    Diinternet saat ini tengah dibanjiri tulisan yang membahas prediksi suku
    Maya yang pernah hidup di selatan Meksiko atau Guatemala tentang kiamat
    yang bakal terjadi pada 21 Desember 2012.
    Pada manuskrip
    peninggalan suku yang dikenal menguasai ilmu falak dan sistem
    penanggalan ini, disebutkan pada tanggal di atas akan muncul gelombang
    galaksi yang besar sehingga mengakibatkan terhentinya semua kegiatan di
    muka Bumi ini.
    Di luar ramalan suku Maya yang belum diketahui
    dasar perhitungannya, menurut Deputi Bidang Sains Pengkajian dan
    Informasi Kedirgantaraan, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional
    (Lapan), Bambang S Tedjasukmana, fenomena yang dapat diprakirakan
    kemunculannya pada sekitar tahun 2011-2012 adalah badai Matahari.
    Prediksi ini berdasarkan pemantauan pusat pemantau cuaca antariksa di
    beberapa negara sejak tahun 1960-an dan di Indonesia oleh Lapan sejak
    tahun 1975. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) saat ini sedang
    gencar melakukan langkah-langkah antisipasi untuk menekan dampak badai
    antariksa yang diprediksi terjadi pada 2011-2012.
    Suku Maya yang hidup jaman dahulu kala di dekat sekitar Mexico, yang punya penanggalan
    akurat, percaya bahwa kiamat akan tiba pada tgl. 20 Desember 2012.
    Percaya atau tidak, apa antisipasi kita (paling tidak) terhadap badai antariksa yang akan mematikan cellphone, GPS, dll.?
    Oleh karenanya radio Elshinta menelpon saya dan mengangkatnya dalam dialog interaktif 2 Desember 2008 mulai pukul 23.00 WIB bertopik ‘Ancaman Badai Matahari Terhadap
    Bumi, Nyata atau Isapan Jempol?’ Dalam dialog interaktif dengan penyiar dan pendengar, saya menjelaskan bahwa aktivitas matahari adalah fenomena biasa yang mempunyai siklus 11 tahunan, sehingga tidak terkait dengan isu kiamat. Kalau pun terjadi kerusakan yang dikhawatirkan, lebih disebabkan karena makin banyaknya teknologi manusia yang ditempatkan di antariksa atau pun di bumi yang rentan terhadap badai matahari.

    Selasa, 10 Februari 2009

    Semburan Lumpur Lapindo akan Habis 31 Tahun Kemudian.

    Semburan lumpur Sidoarjo dengan total volume lumpur secara keseluruhan mencapai 1.155 miliar m3, mungkin baru bisa berakhir 31 tahun kemudian, jika kondisi tekanan, suhu, dan lain-lain sama seperti kondisi saat ini.

    “Dari analisis data seismik, jika debit Semburan sebesar 100 ribu m3 per hari konstan dan kondisi lainnya sama, sementara total volume lumpur yang ada di bawah Sidoarjo mencapai 1.155 miliar m3, maka lumpur di dalamnya baru habis 31 tahun kemudian,” kata Direktur Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam BPPT, Yusuf Surachman pada jumpa pers Solusi Permasalahan dan Penanganan Semburan Lumpur Sidoarjo, di Jakarta, Rabu (18/10).
    Berhentinya semburan lumpur tersebut, ujarnya, bisa lebih cepat atau lambat, tergantung tercapainya keseimbangan tekanan hidrostatiknya yang secara alami menyesuaikan diri antara kondisi lumpur di bawah bumi dan yang sudah dikeluarkan. Karena semburan itu merupakan bagian dari proses pembentukan “mud volcano” atau gunung api lumpur, ujarnya, maka selain berdampak berupa luapan lumpur yang berlangsung lama juga mengakibatkan terjadinya penurunan muka tanah (subsidence) di sekitar pusat semburan yang terus-menerus. Lumpur tersebut, urainya, merupakan campuran fluida dan padatan dalam bentuk air asin (88.200 m3 per hari) dan sedimen laut (37.800 m3 per hari) berupa lumpur, pasir, gas, serta uap dengan suhu 100 derajat Celcius di permukaan.
    Sementara itu Kepala BPPT, Said Djauharsjah Djenie mengatakan, lumpur panas Sidoarjo diperkirakan berasal dari batuan gunung api dengan temperatur dan tekanan tinggi berusia tak lebih tua dari 4,9 juta tahun yang mengendap pada lingkungan laut.
    “Karena itu solusinya dengan cara mengembalikan lumpur yang berasal dari lingkungan laut yang terjadi 4,9 juta tahun yang lalu itu ke lingkungan laut masa kini, ini merupakan pengembalian lumpur ke habitatnya,” katanya.
    Metode pengembalian semburan lumpur ke lingkungan laut itu, lanjut dia, dengan mengalirkan lumpur ke perairan dangkal pesisir delta Porong sehingga terbentuk dataran lumpur bagi mangrove belt dan kawasan tambak. Caranya, tambah dia, bisa disalurkan melalui talang lumpur yang ditempatkan di atas tanggul sungai Porong ke muara suangai Porong jika debit air kurang dari 100 m3 per detik seperti pada musim panas Mei-Oktober.
    “Tetapi untuk musim hujan November hingga April ketika debit air lebih dari 100 m3 per detik, lumpur bisa dialirkan ke banjiran sungai Porong secara langsung,” katanya. Di muara sungai Porong diusulkan dibangun slufter tertutup, kolam bertanggul untuk menampung lumpur yang dialirkan melalui talang lumpur dan slufter terbuka, sebagai perangkap lumpur yang dialirkan langsung ke sungai Porong.“Cara ini sudah digunakan di Rotterdam, Belanda yang limbahnya lebih banyak lagi,” katanya.
    Daftar Pustaka
     

    About

    Text

    Ridho's blog Copyright © 2009 Community is Designed by Ridho Ade Putra